Tips Memaksimalkan Pahala Ramadhan
Tahukah Anda bahwa seorang hamba yang terlihat secara zhahir melakukan
amalan yang sederhana, bisa mengalahkan pahala ibadah mereka yang
tampak menggebu-gebu dan payah dalam ibadahnya? Inilah yang diisyaratkan
oleh Abu Darba dalam ucapannya yang terkenal :
"Duhai betapa hebat tidur dan ifthor-nya orang-orang berilmu (mereka tidak sholat malam dan juga tidak puasa sunnah-pent), namun bagaimana mereka bisa mengalahkan (pahala) sholat malam dan puasanya orang-orang yang bodoh.Sungguh, seukuran biji dzarroh amalan orang yang bertakwa atas dasar ilmu, lebih agung, lebih utama, dan lebih kuat dibandingkan sebesar gunung ibadah dari orang-orang yang tertipu (karena kebodohan mereka tentang ilmu agama)." [Az-Zuhd:1/113 no. 738, Imam Ahmad, Cet.-1 Darul al-'Ilmiyyah,1420].
Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Untuk itu―dengan mengharapkan pertolongan Allah―kami akan memaparkan beberapa kerangka acuan yang sepatutnya kita amalkan demi meraih semaksimal mungkin pahala di bulan suci ini sesuai kesanggupan yang ada pada diri kita masing-masing;
Pertama: Perkuat keikhlasan Anda. Karena semakin besar kekuatan ikhlas dalam beramal, semakin besar pula pahala amalan tersebut.
Allah berfirman (artinya):
"...dan Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki..." [QS.Al-Baqarah: 261].
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa: "yang demikian itu bergantung pada (tingkat) keikhlasannya." [Tafsiir Ibnu Katsiir:1/693, Cet.-2 Daar Thayyibah 1420-H]
Rasulullah bersabda (artinya):
"Barang siapa berpuasa sehari fii sabiilillaah (dijalan Allah), maka Allah akan menjauhkan wajahnya (dan seluruh raganya) dari api neraka sejauh 70 tahun perjalanan." [HR. Bukhari & Muslim].
Para ulama menjelaskan bahwa termasuk dalam cakupan makna fii sabiilillaah dalam hadits di atas adalah; "ikhlas karena Allah semata"
Kedua: Senantiasa ikrarkan niat didalam hati pada setiap amal atau pekerjaan yang Anda lakukan demi mengharapkan ridha Allah.
Jangan remehkan hal ini. Coba bayangkan! Hanya dengan tidur di siang hari, namun dengan niat agar bisa khusyu' mengerjakan Tarawih dimalam hari, anda sudah mendapatkan pahala tersendiri dari tidur siang tersebut. Tidak demikian halnya bagi orang yang tidur tanpa menghadirkan niat karena Allah.
Dahulu, para salaf senantiasa meniatkan setiap gerak dan amal anggota badan mereka agar bernilai ibadah dan mendatangkan pahala. Saat mereka tidur, mereka niatkan karena Allah, demikian pula saat mereka makan, minum, berjalan kaki, menaiki kendaraan, berbicara, diam, semuanya mereka niatkan sebagai bentuk sarana pengabdian dan taqarrub kepada Allah.
Ketiga: Kumpulkanlah sebanyak mungkin niat yang shalih dalam satu amal atau pekerjaan Anda. Karena semakin banyak niat yang shalih dalam suatu amalan, maka semakin banyak pula pahalanya.
Contohnya seperti ini:
saat tiba waktu istirahat dikantor untuk sholat Zhuhur, ambillah air wudhu, lalu berjalanlah menuju masjid, niatkan langkah Anda sebagai pengorbanan menuju ketaatan pada Allah, sesampai dimasjid, hadirkan niat untuk sholat, sekaligus niat untuk ber-'uzlah (mengasingkan diri) guna menghindari kemaksiatan dan ghibah yang terjadi di kantor. Dari masing-masing niat tersebut, Anda sudah mengumpulkan banyak pahala.
Melalui contoh ini, Anda bisa menganalogikannya pada amalan yang lain.
Keempat: Amalan wajib harus lebih diutamakan daripada amalan sunnah
Rasulullah bersabda (artinya):
"...tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan yang lebih aku cintai daripada amalan-amalan wajib. Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sampai Aku mencintainya..." [Shahih Bukhari no. 6502.]
Hadits ini menunjukan secara gamblang bahwa amalan wajib lebih dicintai Allah dari pada amalan sunnah. Dengan demikian, jelaslah kekeliruan sebagian muslimin yang begitu bersemangat melaksanakan sholat Tarawih berjama'ah di masjid, sementara sholat fardhu mereka tunaikan di rumah masing-masing.
Kelima: Mengutamakan ibadah sunnah yang lebih mampu dilakukan secara berkualitas dan kontinyu daripada bersusah payah melakukan amalan yang tidak sesuai dengan kemampuan
Hal ini dipetik dari firman Allah (artinya):
"Katakanlah: 'Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing'. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benarjalan-Nya." [QS.Al-Israa:84]
Rasulullah bersabda (artinya):
"Hendaklah kalian beramal sesuai kemampuan kalian (jangan asal banyak namun akhirnya jenuh dan tidak beramal lagi)." [Shahih Muslim no. 782.]
Keenam: Melakukan amalan secara konsisten dan kontinyu sekalipun terbilang sedikit secara kuantitas.
Janganlah seorang memaksakan diri mengkhatamkan al-Qur-aan dalam tiga hari, sehingga ia luput dari sunnah membaca dengan tartil dan tadabbur, lalu setelah itu dia tidak pernah lagi membaca al-Qur-aan. Karena jika hamba yang bersemangat ini membaca al-Qur-aan walau beberapa ayat saja sesuai kemampuannya, namun disertai tartil, tadabbur, dan konsistensi, tentu itu jauh lebih utama baginya.
Karena Rasulullah bersabda (artinya):
"Amalan yang paling di cintai oleh Allah adalah yang paling konsisten dan kontinyu, sekalipun hanya sedikit." [Shahih Muslim no. 783]
"Duhai betapa hebat tidur dan ifthor-nya orang-orang berilmu (mereka tidak sholat malam dan juga tidak puasa sunnah-pent), namun bagaimana mereka bisa mengalahkan (pahala) sholat malam dan puasanya orang-orang yang bodoh.Sungguh, seukuran biji dzarroh amalan orang yang bertakwa atas dasar ilmu, lebih agung, lebih utama, dan lebih kuat dibandingkan sebesar gunung ibadah dari orang-orang yang tertipu (karena kebodohan mereka tentang ilmu agama)." [Az-Zuhd:1/113 no. 738, Imam Ahmad, Cet.-1 Darul al-'Ilmiyyah,1420].
Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Untuk itu―dengan mengharapkan pertolongan Allah―kami akan memaparkan beberapa kerangka acuan yang sepatutnya kita amalkan demi meraih semaksimal mungkin pahala di bulan suci ini sesuai kesanggupan yang ada pada diri kita masing-masing;
Pertama: Perkuat keikhlasan Anda. Karena semakin besar kekuatan ikhlas dalam beramal, semakin besar pula pahala amalan tersebut.
Allah berfirman (artinya):
"...dan Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki..." [QS.Al-Baqarah: 261].
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa: "yang demikian itu bergantung pada (tingkat) keikhlasannya." [Tafsiir Ibnu Katsiir:1/693, Cet.-2 Daar Thayyibah 1420-H]
Rasulullah bersabda (artinya):
"Barang siapa berpuasa sehari fii sabiilillaah (dijalan Allah), maka Allah akan menjauhkan wajahnya (dan seluruh raganya) dari api neraka sejauh 70 tahun perjalanan." [HR. Bukhari & Muslim].
Para ulama menjelaskan bahwa termasuk dalam cakupan makna fii sabiilillaah dalam hadits di atas adalah; "ikhlas karena Allah semata"
Kedua: Senantiasa ikrarkan niat didalam hati pada setiap amal atau pekerjaan yang Anda lakukan demi mengharapkan ridha Allah.
Jangan remehkan hal ini. Coba bayangkan! Hanya dengan tidur di siang hari, namun dengan niat agar bisa khusyu' mengerjakan Tarawih dimalam hari, anda sudah mendapatkan pahala tersendiri dari tidur siang tersebut. Tidak demikian halnya bagi orang yang tidur tanpa menghadirkan niat karena Allah.
Dahulu, para salaf senantiasa meniatkan setiap gerak dan amal anggota badan mereka agar bernilai ibadah dan mendatangkan pahala. Saat mereka tidur, mereka niatkan karena Allah, demikian pula saat mereka makan, minum, berjalan kaki, menaiki kendaraan, berbicara, diam, semuanya mereka niatkan sebagai bentuk sarana pengabdian dan taqarrub kepada Allah.
Ketiga: Kumpulkanlah sebanyak mungkin niat yang shalih dalam satu amal atau pekerjaan Anda. Karena semakin banyak niat yang shalih dalam suatu amalan, maka semakin banyak pula pahalanya.
Contohnya seperti ini:
saat tiba waktu istirahat dikantor untuk sholat Zhuhur, ambillah air wudhu, lalu berjalanlah menuju masjid, niatkan langkah Anda sebagai pengorbanan menuju ketaatan pada Allah, sesampai dimasjid, hadirkan niat untuk sholat, sekaligus niat untuk ber-'uzlah (mengasingkan diri) guna menghindari kemaksiatan dan ghibah yang terjadi di kantor. Dari masing-masing niat tersebut, Anda sudah mengumpulkan banyak pahala.
Melalui contoh ini, Anda bisa menganalogikannya pada amalan yang lain.
Keempat: Amalan wajib harus lebih diutamakan daripada amalan sunnah
Rasulullah bersabda (artinya):
"...tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan yang lebih aku cintai daripada amalan-amalan wajib. Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sampai Aku mencintainya..." [Shahih Bukhari no. 6502.]
Hadits ini menunjukan secara gamblang bahwa amalan wajib lebih dicintai Allah dari pada amalan sunnah. Dengan demikian, jelaslah kekeliruan sebagian muslimin yang begitu bersemangat melaksanakan sholat Tarawih berjama'ah di masjid, sementara sholat fardhu mereka tunaikan di rumah masing-masing.
Kelima: Mengutamakan ibadah sunnah yang lebih mampu dilakukan secara berkualitas dan kontinyu daripada bersusah payah melakukan amalan yang tidak sesuai dengan kemampuan
Hal ini dipetik dari firman Allah (artinya):
"Katakanlah: 'Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing'. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benarjalan-Nya." [QS.Al-Israa:84]
Rasulullah bersabda (artinya):
"Hendaklah kalian beramal sesuai kemampuan kalian (jangan asal banyak namun akhirnya jenuh dan tidak beramal lagi)." [Shahih Muslim no. 782.]
Keenam: Melakukan amalan secara konsisten dan kontinyu sekalipun terbilang sedikit secara kuantitas.
Janganlah seorang memaksakan diri mengkhatamkan al-Qur-aan dalam tiga hari, sehingga ia luput dari sunnah membaca dengan tartil dan tadabbur, lalu setelah itu dia tidak pernah lagi membaca al-Qur-aan. Karena jika hamba yang bersemangat ini membaca al-Qur-aan walau beberapa ayat saja sesuai kemampuannya, namun disertai tartil, tadabbur, dan konsistensi, tentu itu jauh lebih utama baginya.
Karena Rasulullah bersabda (artinya):
"Amalan yang paling di cintai oleh Allah adalah yang paling konsisten dan kontinyu, sekalipun hanya sedikit." [Shahih Muslim no. 783]
Post a Comment: